Industrialisasi Hadirkan Lapangan Kerja

Hingga saat ini NTB masih berkutat pada dua masalah mendasar pembangunan, seperti persoalan pengangguran dan kemiskinan. Upaya pemerintah untuk meminimalisir hal ini telah banyak dilakukan dari pendekatan sektor pertanian, UKM, pariwisata dan lain-lain. Sehingga memungkinkan penurunan angka kemiskinan dan pengangguaran dapat teratasi. Terkadang masalah kemiskinan berada di ambang yang mengkhawatirkan juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Begitu juga dengan jumlah pengangguran dilihat dari lulusan sekolah tinggi terus menyumbang angka pengangguran, apalagi pasca bencana gempa bumi yang melanda NTB tahun 2018 lalu, secara statistik juga akan meningkat.

Data dari badan pusat statistik (BPS) Provinsi NTB, jumlah masyarakat miskin September 2018 mencapai 735,62 ribu orang (14,63 persen) Jika dilihat dalam periode Maret 2018 - September 2018, jumlah penduduk miskin berkurang 1,84 ribu orang (0,12 persen). Namun, tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) posisi Februari 2018 sebesar 3,38 persen. Angkatan kerja pada Februari 2018 sebanyak 2.459.021 orang. Penduduk bekerja di NTB pada Februari 2018 sebanyak 2.375.811 orang. Lulusan sekolah tinggi menyumbang angka pengangguran terbanyak di NTB. Masing-masing untuk tingkat pendidikan diploma I,II dan II sebesar 9,13 persen. Dan lulusan perguruan tinggi sebesar 7,55 persen, serta diikuti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 5,83 persen pada Februari 2018.


Tentu dengan segala persoalan yang ada, pemerintah terus mencari inovasi dan metode baru dalam mengatasi masalah-masalah itu. Oleh karena itu, Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah menyampaikan strategi baru pemahaman tentang Industrialisasi sebagai langkah awal untuk menggalakan segala produk-produk daerah untuk bersaing dengan pasar-pasar nasional maupun internasional. Untuk menanggulangi dua masalah itu dan salah satu strategi adalah daya saing industri.

“Upaya kita untuk merasakan kesejahteraan dan kemakmuran tergantung dari kemampuan kita dalam melakukan Industrialisasi. Karena Industrialisasi akan menghadirkan lapangan kerja baru yang diharapkan dapat mengikis kemiskinan", ujar gubernur yang didampingi Wagub NTB Hj. Rohmi Djalilah serta seluruh kepala OPD dalam rapat menyusun Roadmap Industrialisasi NTB, di Aula Bappeda Provinsi NTB, Mataram (16/4).

Sebuah daerah dikatakan memiliki daya saing, jika daerah itu mempunyai kemampuan memproduksi barang atau jasa yang sesuai dengan standart internasional. Minimal produk-produk NTB punya daya saing jika disandingkan dengan produk-produk nasional. Kedua, adanya Riil Income (pendapatan yang nyata) untuk masyarakat. Ketiga, adalah jika masyarakat mudah mencari pekerjaan di derahnya sendiri. Industrialisasi merupakan suatu proses perubahan sosial ekonomi yang mengubah sistem pencaharian masyarakat agraris menjadi masyarakat industri.

“Konsep industrialisasi adalah sebuah proses besar yang merubah suatu kondisi dalam waktu tertentu, dari sistem tradisional/konvensional menjadi sistem yang lebih modern,” jelas Dr. Zul.


Selain itu, Doktor Zul juga menekankan bahwa, hal penting yang juga harus diperhatikan dalam menciptakan daya saing adalah, perusahaan yang hadir di suatu daerah harus mendapatkan keuntungan dan tumbuh. Dan industrialisasi itu tak mungkin terjadi tanpa teknologi.

"Kita harus mampu meng-update cara pandang, apa yang akan dijual dari tahun ke tahun itu harus ada perubahan menyesuaikan kemajuan yang terjadi. Amati, tiru dan duplikasi. Apa produk yang kita unggulkan sampai 10 tahun ke depan. Sebab proses merubah ke yang punya nilai tambah lebih tinggi ini disebut dengan industrialisasi” tandasnya 

Sejalan dengan Gubernur, Wagub NTB Hj. Rohmi Djalilah menyampaikan bahwa, konsep yang disampaikan oleh gubernur adalah konsep besar, yang harus mampu kita jalankan. Untuk mengembangkan industrialisasi, harus berangkat dari keadaan riil di daerah. Perencanaan dan pengembangan harus diawali dengan potensi yang ada di daerah ini. 

"Kita harus mampu merencanakan tahun pertahun dari program kerja kita. Semua kepala OPD harus benar-benar responsif terhadap berbagai hal yang terjadi dalam mendukung iklim industrialisasi di NTB. Kuncinya adalah koordinasi, komunikasi dan kerjasama seluruh stakeholder di daerah ini dan mindset kita harus beralih sebagai yang melayani ” tutur Ibu wagub. (Man-Tim Media).

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru