Penjual Serabi di Puing 6.4 SR


Sejak saya menemani para relawan LPBI NU Bali yang memabantu merecovery kondisi masyarakat korban gempa Lombok di Dusun Ketapang, hampir setiap pagi kami sarapan dengan  serabi  sambil minum teh. Suatu pagi selesai sholat subuh saya bertanya sama ibu yang biasa menyiapkan kami sarapan, Wah sugul ke dagang serabi ino? (Sudah keluar penjual serabi itu). Ndek man, nengka karing semendak (belum, tunggu tinggal sebentar) jawabnya. Mbe tao’ bale na? (di mana rumahnya) sambung saya, ino (itu) katanya sambil menunjuk sebuah gubuk mungil beratap seng dan berdinding papan bekas yang mirip rumah kurcaci di pinggiran tebing.

Saya pun berniat ke sana ingin tau bagaimana kondisinya karena penasaran setiap pagi menyaksikan ada seorang wanita tua yang masih tegar mencari nafkah meski dalam situasi terkena dampak bencana gempa Lombok yang pertama berkekuatan 6,4 Scale Richter. Dia tidak mau menyarah hanya mengharap uluran tangan dan bantuan orang lain. Di huntara yang terbuat dari sisa-sisa puing rumahnya berukuran 3 x 5 m, dia bersama cucunya yang bisu tinggal, raut wajahnya yang menyiratkan kerasnya hidup yang dialaminya.

Pagi-pagi setelah subuh dia sudah beraktifitas mempersiapkan dagangannya. Di perempatan kampung menjadi tempatnya berjualan, tanpa lapak dia menggelar dagangannya di pojok perempatan, dibantu cucunya yang bisu itu. Cucunya tidak bisa bicara akibat penyakit aneh setelah kejadian gempa yang melanda lombok,  termasuk desa dimana mereka tinggal sekarang.


Senyum papuk rodiani menyapa saya saat melihatnya keluar dari huntara mungilnya sambil menggendong bakul kecil dan daun-daun pisang yang sudah dilepas dari pelepahnya. “Wah siap serabi nda puq” (sudah siap serabinya, nek), sapa saya. “Enggih niki nyaka tiang jauk jok taok tiang bedagang no lek gang perempatan ino” (ya, ini sedang saya bawa ke tempat jualan di gang perempatan itu) Jawabnya. “Plinggih da mbeli?, nane wah lek ito” (Mau beli? Nanti dah di sana) katanya sambil bergegas melangkah. “Maeh ku jau’ang ida puq” (Mari saya bawakan nek) kata saya sembari mengejar langkahnya. “Ndek ulak wah” (ndak usah dah) jawabnya halus. Saya pun mengikuti langkahnya menuju perempatan yang jaraknya sekitar 50 meter sambil bertanya ini dan itu mengenai dirinya.

Dari jawaban-jawaban yang diselingi dengan cerita-cerita masa lalunya, saya bisa menggambarkan ternyata Papuq Rodiani yang dulunya sebelum punya cucu bernama inaq Jupria.  Dia dan suaminya adalah transimigran yang dikirim pemerintah, dulu katanya karena tahunnya sudah tidak diingatnya. Mereka terpaksa ikut transimigrasi ke wilayah Obel-obel pada masa itu karena rumah dan harta benda mereka hangus terbakar, ketika terjadi bencana kebakaran besar Melalap desa mereka di Desa Peneda. Cuma itulah yang dia ingat bahwa mereka bertransmigrasi setelah kebakaran besar melanda desa mereka di Peneda. 

Dulunya sebelum berjualan serabi dia adalah pedagang sayur mayur di pasar, namun Setelah suaminya meninggal sekitar 6 tahun yang lalu akibat sakit, tidak ada lagi yang membantunya mencarikan sayur-mayur pada petani-petani seputaran persawahan obel-obel. Hampir semua pasar besar di lotim mnjadi muara barang dagangannya seperti pasar Paok Motong, pasar Aikmel, pasar Sambelia, dan pasar Ancak.

Karena jarak tempuh yang jauh, papuq Rodiani dan pedagang –pedagang lain yang berasal dari Obel-obel harus berangkat sehari lebih awal dari jadwal pasaran supaya paginya mereka sudah siap menggelar dagangannya, sehingga dia harus berangkat sore hari sebelumnya dan menginap  di pasar. Namun sekarang untuk menyambung hidup, papuq rodiani mencari nafkah dengan berjualan serabi dengan memanfaatkan situasi pagi di mana ramainya orang mencari jajanan untuk sarapan.


Sampai sekarang pasca gempa pun, papuq rodiani masih berjualan serabi, dia menjadi tumpuan orang-orang  dan anak-anak sekolah yang tidak sempat mempersiapkan sarapan pagi mereka. Silih berganti relawan-relawan yang berposko di dusun Ketapang rata-rata pernah mencicipi serabinya Papuq Rodiani. Satu poyong besar (satu bungkus daun pisang berukuran jumbo) dijualnya Rp.5000, terkadang bisa kurang sesuai pesanan. Selain serabi ada juga pesor dari ketan sebagai pilihan pembeli atau bisa juga dicampur. Tidak pernah saya dengar ada keluhannya ataupun berharap mengenai bantuan – bantuan dari pihak lain walaupun memang kalau ada bantuan datang terkadang dia dapat bagian. Dia Cuma bercerita mengenai rumahnya yang hancur dan cucunya yang bisu akibat gempa. Sudah biasa menghadapi kesulitan katanya, selama masih bisa berjualan dia akan terus berjualan. Sudah menjadi kebiasaannya bangun sebelum subuh mempersiapkan keperluan dagangnya seperti memasak pesor, memarut kelapa, memasak gula aren, Membuat adonan dan memotong daun-daun pisang. Dalam proses itu dia dibantu cucunya yang bisu itu sekarang, karena sebelum gempa cucunya bersekolah dan mondok di Ponpes Hidayatul Islamiyah Bagek Nyaka, jauh dari desanya. Bagi pembaca yang kebetulan lewat atau singgah di Dusun Ketapang atau dulunya bernama Dusun Proyek 100 (Proyek Transimigrasi 100 Kepala Keluarga) silahkan mampir di tempat papuq Rodiani berjualan. (Izzy) #LombaNTBKita

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru