Harga Meningkat, Petani Semangat Tanam Jagung

Pasca panen raya jagung saat ini, agaknya harga jual sudah mulai berpihak kepada petani dibandingkan dengan musim tanam sebelumnya. Jika pada musim tanam atau panen sebelumnya harga jual justru menjadikan petani terlilit hutang biaya produksi, apalagi mimpi meraih untung. Dalam satu timbang (kwintal, red) petani dihargakan Rp. 150 ribu saja. Tak sepadan dengan jerih payah petani dan ongkos produksi yang dua kali lipat dari harga jual. Namun keuntungan petani pada musim panen saat ini dihargakan Rp. 390 ribu per kwintal.

Fenomena harga jual jagung tersebut diungkapkan sejumlah petani jagung di desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung. Inaq Salimah (50), warga setempat misalnya ketika ditemui media ini Rabu (25/11) di Kebon Ayu mengaku sumringah saat ini dengan harga jagung yang sudah mulai membaik. “Saya berharap bersama petani lainnya agar harga jagung tetap stabil dan menguntungkan petani terutama dari harga jual,” kata ibu tiga anak ini.

Dibandingkan dengan harga jual jagung muda, Inaq Salimah dan petani lainnya masih berharap penjualan harga jagung kering. Harga jagung muda rendah Rp. 500 pertongkol. Sementara pengepul biasanya menjualnya dengan harga kisaran Rp. pertongkol. “Karena itu kita lebih senang menjualnya kalau sudah kering,” kata Inaq Salimah.

Pantauan media ini selama musim kemarau beberapa waktu lalu, di desa Kebon Ayu, Desa Taman Ayu dan sekitarnya banyak petani yang memanfaatkan lahan kosongnya untuk bertanam jagung, sayur-mayur ataupun tanaman umbi-umbian lainnya. “Bertanamn sayur-mayur juga menguntungkan, karena sayur setiap hari dibutuhkan masyarakat dan banyak dicari pembeli ataupun pengepul di pasar,” kata Amaq Sadri petani lainnya di Desa Taman Ayu. (wardi)     -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru