NTB jadi Lumbung Bawang Merah Nasional

Provinsi NTB bisa menjadi salah satu lumbung bawang merah nasional. Khususnya Kabupaten Bima dan Sumbawa, yang sejak lama menjadi daerah pemasok utama ekspor bawang nasional.

”Bawang merah asal Bima dan Sumbawa sudah diekspor ke Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Thailand,” ungkap Direktur Jendral Hortikultura Spudnik Sujono Kamino dalam Festival Hortikultura Nasional yang digelar di ruang terbuka hijau (RTH) Pagutan Kota Mataram, Sabtu (10/10).

Ia mengatakan, tahun depan pemerintah menargetkan agar Indonesia tidak lagi impor bawang merah, baik untuk benih ataupun untuk konsumsi. Salah satu faktornya adalah produksi bawang merah di daerah Bima dan Sumbawa yang melimpah setiap tahun dan cukup memenuhi kebutuhan bawang merah nasional. ”Kalau ke Bima, sejauh mata memandang yang terlihat adalah tanaman bawang. Karena mereka menananam sepanjang tahun,” katanya pada wartawan.

Luas lahan bawang secara nasional saat ini mencapai 1 juta hektare, terbesar di Pulau Jawa. Namun produksi di Bima dan Sumbawa menjadi perhatian nasional. Dengan kondisi ini, pemenuhan kebutuhan bawang merah minimal 12 juta ton per tahun optimis bisa terpenuhi.

Sementara itu Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi mengatakan, Kementerian Pertanian akan membangun gudang besar di Bima yang bisa menjadi gudang stok bawang. Produksi bawang di Bima dan NTB secara umum cukup tinggi yakni 117 ribu ton per tahun. Ia berharap hal ini bisa memberikan dampak positif bagi ekonomi petani. Pemerintah pusat diharapkan memberi perhatian terhadap petani, sehingga ke depan bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor.

”Jadi kita siap, asal petani kita diberikan bibit yang cukup, dan mendapat perhatian lebih,” ujarnya.

Gubernur mengakui potensi hortikultura di NTB belum digarap dengan maksimal. Hal ini terlihat dari nilai tukar petani di bidang hortikultura yang belum mencapai 100 persen, dibandingkan nilai tukar petani bidang lain yang mencapai 104 persen lebih. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bersama semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat pentani. ”Festival ini menjadi momentum bagi kita untuk meningkatkan potensi pertanian di sektor hortikultura,” katanya.

Ia mencontohkan di Sembalun, Lombok Timur bisa menjadi pusat pengembangan tanaman hias bunga, karena kebutuhan bunga hias di NTB sangat tinggi, tetapi tidak bisa dipenuhi dari dalam daerah. ”Kita ingin membuka satu ruang baru bagi para pembudidaya hortikultura kita untuk mendapatkan kemanfaatan ekonomi,” katanya. (wardi) - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru