Harga Tomat Tak Sekarib Dulu

Suatu sore menjelang matahari terbenam di ufuk barat di dusun terpencil di Desa Batukumbung, Lingsar, Arsinah (47) pria dengan perawakan sedang tiba-tiba saja menghentikan aktivitasnya. Sesekali nafas sengal terdengar keluar dari mulutnya. Tingkahnya seolah menggambarkan rasa kecewa teramat dalam tanpa diketahui alibi yang pasti. Setelah buka mulut, KM memberanikan diri bertanya. “Bukan saya saja yang kecewa, namun rekan lainnya sesama petani turut kecewa, karena harga tomat yang terjun bebas,” katanya mengutarakan kekecewannya.

Fenomena harga tomat di tingkat petani dalam setiap menjalankan usaha taninya kerapkali terjadi pada setiap paruh (pertengahan, red) tahun. Faktanya memang demikian, hampir kebanyakan petani sayur, khususnya tomat gelisah sepertinya tak berkesudahan. Sayur utama yang dibutuhkan sebagai bumbu dapur ini akhir-akhir ini dari segi harga memang anjlok seakan tak karib lagi dengan petani. Meski demikian, Arsinah hanya mampu pasrah. “Mau bagaimana lagi, harganya hanya Rp. 2000-Rp. 3000 per kilonya. Padahal biaya produksi tidak sedikit,” ujar ayah tiga anak ini.

Anjloknya harga tomat ini, makin membuat petani makin terpuruk dari sisi pendapatan. Meski petani berbulan-bulan merawat tomatnya hingga panen dengan hasil melimpah, justru menggiring petani tak lagi bersemangat membudidayakan tanaman sayur warna merah delima ini.  

Secara umum harga tomat di Lombok Barat ataupun di daerah lainnya tengah meresahkan petani. Harga tomat sebelumnya per kilo bisa tembus antara Rp. 10.000 hingga Rp. 13.000. Kegirangan petani akan harga tomat sebanyak itu cukup menghibur dan melegakan petani. Semangat menanampun menjadi lebih terpacu. Petani lainnya yang selama ini jarang menanam tomat, bahkan tak pernah bertanam tomat, ikut-ikutan menanam secara serempak. Sayangnya impian merauf harga pantastis sebanyak itu hanyalah sesaat. Petani hanya gigit jari ketika panen, harganya justru jauh dari angan-angan.

Petani lainnya Akmaludin (50) di desa Langko tak mampu menyembunyikan kegundahannya akan harga tomat yang kurang karib ini. Ia sendiri memastikan bahwa ia menderira kerugian cukup besar akibat anjloknya harga tomat pada musim panen tahun ini. Semburat wajahnya yang terus berkeriput dibiarkannnya begitu saja seiring dengan dibiarkannya tomat yang sudah siap petik diacuhkan begitu saja hingga membusuk bahkan banyak yang jatuh berceceran.

     "Keuntungan dari mana yang bisa kita dapatkan kalau sudah harga tomat seperti ini. Dari luas lahan dan biaya produksi yang tak sedikit tak bisa ditutupi, jika harganya seperti ini.  Agar untung minimal harganya Rp4000 per kilogram. Mengingat sarana produksi, bibit, pemupukan, tenaga kerja juga tinggi,” kata Akmal panggilan akrabnya.

Ia bersama rekan-rekanya satu suara jika harga tomat serendah itu para petani tidak akan mampu mampu mengembalikan biaya produksi yang cukup besar. Ia memberi perbandingan jika harga 'mulsa' sebagai penutup  tanaman budidaya harganya mencapai Rp500 ribu hingga Rp. 600 ribu ukuran 10 kilogram. Sekali panen tomat biasanya  mencapai 50-60 kilogram. Harga jual justru jauh dari perkiraan semula. Pengepul menghargakannya Rp. 50 ribu saja. Hal ini bisa dihitung, guna menutupi biaya produksi dilakukan 8 atau 9 kali panen.

Jika saja harga tomat cukup bagus atau setidaknya berbeda tipis saat-saat panen sebelumnya, justru memberikan nilai tambah bagi pendapatan pekerja lainnya. Seperti buruh tani yang biasanya diberikan upah memetik. Namun karena kondisinya seperti saat ini, petani kebanyakan memilih memetik sendiri.

"Musim panen saat ini mau tidak mau saya dan keluarga harus memetik sendiri. Jika kami gunakan buruh tani, dari mana kami harus mebiayainya. Begitu pula hasil panen kami jual  sendiri ke pasar, tak lewat pengepul. Dulu saat panen tomat kan pengepul sendiri yang datang ke sini,” jelas Burhanudin petani lainnya di Gegelang, Lingsar.

Harga tomat yang murah saat panen ini terbilang meresahkan petani. Komoditas pertanian ini tak lagi memiliki nilai ekonomis tinggi. Harga tomat yang tak bersahabat ini membuat petani membagikannya pada tetannga.

Anjloknya harga tomat tersebut turut membuat keprihatinan pemerintah baik eksekutif maupun legislatif. Sektor pertanian tetap menjadi tumpuan hidup masyarakat di Gumi Patut Patuh Paju dan sangat rentan dengan gejolak ekonomi. Untuk itu  harus ada upaya dari pemerintah agar  kehidupan para petani  tidak semakin memprihatinkan. Dalam kondisi seperti sekarang ini para petani menderita karena harga komoditas yang mereka hasilkan relatif rendah.(wardi) -05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru