"Pasar Malam", Antara Berkah dan Musibah

KM. KAULA: Pasar malam dadakan yang selalu di mulai sejak tanggal satu hingga malam terakhir Bulan Ramadlan setiap tahun ternyata tidak hanya membawa berkah, karena telah memudahkan warga sekitar memenuhi kebutuhan sehari-hari bahkan termasuk pakaian lebaran untuk anak cucunya, tapi juga diindikasikan membawa musibah.

Ntah siapa yang memulai, yang pasti bahwa sejak lebih kurang lima tahun lalu, di Dusun Seganteng Desa Aik Bukak Kecamatan Batukliang Utara, selalu disetiap bulan puasa ada pasar malam yang dimulai sejak malam pertama hingga malam terakhir Bulan Ramadlan. Dan sebagaimana layaknya sebuah pasar, bahwa semua jenis kebutuhan ada di jual, mulai dari buah-buahan, sayur mayur dengan bumbu-bumbuannya, kue, pakaian dan lain sebagainya semuanya tersedia.

Kondisi ini sudah tentu sangat menguntungkan bagi warga sekitar pasar, baik yang berprofesi sebagai penjual ataupun pembeli. Kondisi menguntungkan ini ternyata belakangan harus diimbangi dengan keresahan para orang tua. Keresahan para orang tua ini disebabkan karena banyaknya pasangan muda-mudi yang memanfaatkan kesempatan keheningan malam di pojok-pojok sepi untuk berbuat mesum bersama pasangan mereka masing-masing.

Menurut salah seorang pemuda yang namanya tidak mau disebut di sini, mengatakan, “kalau kita mau cari uang, maka kami sama teman-teman keliling ke bebarapa tempat sepi seperti belakang madrasah, di das-das (Gubuk petani ditengah sawah) untuk memergoki pasangan muda-mudi yang berbuat mesum untuk kita palak dengan ancaman, rahasia mereka akan kita bongkar, dalam satu malam masing-masing group kadang bisa memergoki dua atau tiga pasang, lumayan buat beli rokok.

Ternyata benar apa yang sering orang katakan bahwa dalam setiap sesuatu pasti ada manfaat juga mudlarat atau dengan kata lain ada positif juga ada negative, jadi sangat dibutuhkan kejelian kita untuk melihat mana yang lebih besar antara manfaat dan mudlarat dan akan lebih bagus lagi justru kalau berusaha mengambil hikmah yang baik dalam segala sesuatu.

Dan lebih penting lagi bahwa dalam kejadian diatas hal yang paling penting diambil sebagai benang merahnya adalah harus ada upaya lebih keras dalam kerangka mendidik anak, karena bagaimanapun yang membuat putra putri kita melakukan hal yang tidak kita inginkan adalah bukan karena kemauan semata tapi juga karena kesempatan yang tersedia, sehingga langkah cerdas untuk mengantisifasi hal itu adalah dengan meminimalisir kesempatan mereka. [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru