Musim Tanam Musim Uang

KM. Sukamulia – Musim bertanam padi atau yang disebut dengan istilah Nagro-Ngareng (Bahasa Sasak) terdapat banyak rizki bagi orang-orang yang bekerja sebagai buruh tani, khusunya bagi Penanem dan pembajak (tukang nenggala). Pada musim tanam padi, kedua golongan buruh tani ini mendapatkan rizki yang besar, sedangkan pemilik sawah/lahan mengeluarkan uang/biaya yang besar. Musim tanam padi biasa terjadi pada musim hujan, khususnya sejak pertengahan November hingga pertengahan bulan Januri. Pada bulan tersebut, Penanem dan Tukang Nenggala memanen uang dari jasa yang mereka jual kepada pemilik lahan. Pada musim tanam padi Penanem dan Tukang Neggala mendapatkan uang banak dan pemilik lahan mengeluarkan uang yang banyak pula, sebab itulah warga Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur mengatakan bahwa Musim Nanem Musim Kepeng (Musim Tanam Musim Uang).

Allah menyediakan ribuan bahkan jutaan jalan untuk manusia mendapatkan rizkinya. Banyak cara yang dapat ditempuh oleh manusia supaya mereka mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. Allah menitipkan bakat dan minat pada setiap manusia dan dengan bakat itulah mereka berhamburan di muka bumi untuk bekerja dan mengumpulkan rizki Allah yang dihamparkan di atas dan di perut bumi yang kita huni ini. Salah satu jalan yang digariskan Allah bagi hambanya adalah bertani dan menjadi buruh tani. Petani dan buruh tani memiliki berbagai jenis pekerjaan, mulai dari menanam, memelihara, budidaya, panenen, pemasaran, hingga pengolahan hasil pertanian. Salah satu jenis pekerjaan buruh tani yang bersifat musiman adalah menanam padi (Nanem: Bahasa Sasak/Pohgading) dan orang yang melakukan kegiatan ini disebut dengan nama Penanem (orang-orang yang bekerja sebagai buruh menanam padi, khususnya pada lahan pertanian yang mengelola tanah pertanian dengan sistem irigasi yang teratur).

Di Desa Pohgading Timur pada umumnya dan di Dusun Sukamulia pada khsusunya, tidak terdapat banyak orang yang mencari rizki dengan jalan sebagai Penanem dan Tukang Nenggala. Hal itulah yang kemudian menyebabkan petani/pemilik lahan setempat mengupahkan orang utnuk membajak lahan mereka dan juga membayar Penanem untuk menanamkan mereka padi pada lahan pertanian/swah mereka yang sudah dibajak.

Pada musim tanam padi, para Penanem betul-betul dibutuhkan oleh petani/pemilik lahan yang ada di Desa Pohgading Timur dan sekitarnya. Oleh sebab itu, mereka membajak sawah secara bergiliran dan hal ini sudah merupakan sistem bagi petani setempat. Ketika datang musim tanam, petani setempat melakukan koordinasi dengan sebaik mungkin sehingga mereka membuat jadwal yang jelas untuk membajak lahan pertanian mereka. Hal ini dilakukan sebab petani setempat keterbatasan dalam masalah alat pengolahan tanah/tukang bajak dan tidak banyak orang yang ahli menanam padi (Nanem). Dengan demikian mereka bergiliran melakukan pengolahan tanah dan menanam padi dan jadwal mereka sangat ditentukan oleh kesiapan Tukang Nenggala dan Penanem. Pada musim ini, pembajak dan penanem  sangat dibutuhkan dan itu memiliki danpak yang sangat positif bagi perekonomian kedua golongan buruh tani itu. Namun dalam tulisan ini, penulis hanya akan menjabarkan mengenai penghasilan Penanem dan yang penulis jadikan sampel adalah kelompok penanem yang berasal dari Dusun Sukamulia (kampung penulis).

Di Dusun Sukamulia terdapat 2 kelompok Penanem yang masing-masing kelompok berjumlah 4 hingga 5 orang. Setiap tahunnya jasa kedua kelompok penanem ini-lah yang digunakan oleh warga Dusun Sukamulia untuk menanam padi di sawah/lahan pertanian mereka. Musim tanam betul-betul merupakan musim panen uang bagi kedua kelompok penanem ini. Untuk menanam padi, penanem mengambil upah ber-ara-an. Untuk musim tanam tahun ini (2015) mereka mematok ongkos, Rp. 12.000/are, artinya setiap satu are mereka mengambil upah sebesar Rp. 12.000 dan itupun mereka ditanggung makan, kopi dan rokok oleh si pemilik lahan. Bagaimana mereka tidak mendapatkan uang yang banyak sebab setiap harinya, paling tidak satu kelompok penanem dapat menanam padi pada di lahan seluas 4 hingga 4,5 ha.

Hal ini sesuai dengan keterangan yang penulis dapatkan dari Amaq Ruhni (ketua Kelompok Penanem yang membawahi Amaq Ana, Supriadi, dan Hamdani). Amaq Ruhni menyatakan bahwa setiap harinya kami berempat dapat menanam padi di lahan sejumlah 4 hingga 4,5 ha dan setiap satu are kami diberikan upah sejumlah Rp. 12.000. Jika dihitung-hitung, ea paling minimal kami mendapatkan uang sejumlah Rp. 120.000/hari dan itu adalah hasil bersih sebab kami ditanggung makan, kopi dan bahkan kami ditanggung rokok oleh pemilik sawah. Untuk itu kami sangat bahagia saat datangnya musim padi. Khusus untuk kelompom yang saya bawahi, setidaknya kami melakukan pekerjaan ini selama dua bulan dan jika dihitung-hitung, selama dua bulan itu kami bisa mengumpulkan uang sebesar 5 hingga 6 juta/orang, papar beliau saat kami wawancarai ketika ia sedang istirahat makan siang.

Amaq Ana juga menegaskan bahwa menjadi penanem adalah pekerjaan yang sangat kami senangi sebab pada saat kami sibuk dengan kegiatan menanem, pengeluaran rumah tangga kami menurun derastis sedangkan penghasilan kami meningkat. Hal ini disebabkan karena kami ditanggung makan oleh si pemilik sawah dan kami makan di rumah hanya pada saat makan malam saja dan mungkin ini sudah memang tradisi warga kami khususnya di Dusun Sukamulia ini, dimana setiap warga yang membajak sawah dan menggunakan jasa penanem maka petani tersebut juga mengantarkan nasi untuk keluarga si penanem sehingga pada saat musim tanem, istri kami jarang memasak. Dari kegiatan nanem, kami juga mendapatkan hasil yang lumayan. Pada tahun-tahun sebelumnya kami selalu mendapatkan hasil bersih sekitar 5 juta selama dua bulan dan bahkan tahun 2014 lalu masing-masing kami di kelompok ini mendapatkan hasil sejumlah 6 juta-an hingga selesai musim tanam padi yang biasanya itu berlangsung sekitar 2 bulan atau lebi-lebih sedikit. Dengan demikian, jangan sekali-kali mengentengkan hasil orang yang bekerja menjadi penanem. Contohnya saya sendiri yang dapat membeli motor dan memperbaiki rumah dari hasil menjadi seorang penanem.

Mengacu dari keterangan di atas maka patutlah kita mengatakan bahwa pada musim tanam, penanem panen uang. Jika dihitung-hitung maka rata-rata mereka mendapatkan uang sebesar 2,5 juta/bulan, penghasilan mereka mengalahkan hasil PNS golongan rendah. Sayangnya pekerjaan yang mereka geluti bersifat musiman sehingga setelah berahir musim tanam mereka tidak lagi mendapatkan penghasilan sebesar itu.

Demikianlah Allah menyediakan rizki kepada setiap hamba-Nya, di sini-lah kita lihat bagaimana Allah itu memang betul-betul adil terhadap segenap ciptaan-Nya, tidak ada ciptaan-Nya yang diberikan kelaparan apabila mereka mau berusaha. Penanem mendapatkan hasil yang tinggi pada saat musim tanam padi sedangkan pemilik lahan mengeluarkan modal yang besar. Dan pada saat musim panen tiba, pemilik lahan mendapatkan hasil yang besar sedangkan para penanem dan pembajak mendapatkan hasil yang kurang, kecuali mereka bekerja lagi sebagai penggabah (tukang panen padi). - 05

_By. Asri The Gila_

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru