Petani Aren Gunungsari Butuh Perhatian Pemerintah

Lobar-Petani aren yang ada di Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat (Lobar) mengharapkan perhatian pemerintah terkait bantuan teknologi pencetak gula merah dengan durasi cepat. Pasalnya mereka masih menggunakan pola tradisional, terlebih lagi kesulitan dalam pemasaran  yang lebih luas.       

Kepala Desa (Kades) Guntur Macan, Abdul Hanan mengatakan petani aren di wilayahnya masih di bawah garis kemiskinan. Kendatipun petani ini sudah membentuk dua kelompok dengan harapan dapat menggugah perhatian pemerintah, namun pada ujungnya nihil. “Petani aren kita sangat memprihatinkan, kesejahtraan mereka jauh dari standar cukup,” ungkapnya pada Radar Lombok, Rabu kemarin (28/1)

Dalam proses pembuatan gula merah dengan pola tradisional. Hal ini, kata Hanan,  membutuhkan durasi yang cukup lama. Bahkan bahan bakar kayu kering stocknya harus disediakan banyak. Selain durasi cukup lama dan memeras tenaga, harga gula merah di pasaran rendah tergntung ukuran besar kecilnya sekisar Rp 3-4 ribu perbiji.

Karena  itu, Hanan meminta pemerintah tergugah dan mau memberikan pembinaan SDM, cara pemasaran dengan model  kemasan berkualitas, utamannya adalah bantuan alat mesin pencetak gula merah. Menurutnya selain Kecamatan Gunungsari menghasilkan produk gula merah, Kecamatan Narmada dan Lingsar sebagian besar warga menggeluti usaha gula merah dari air aren. Artinya potensi alam dari sektor ini penting untuk pemasukan daerah, petani aren pun makin disejahterakan.

“Sekarang banyak petani aren mengalihkan tadinya membuat gula merah ke proses pembuatan tuak miras. Sebab dengan tuak miras nilai hargnya tinggi dibandingkan gula merah,” tukasnya

Sementara itu Kepala Desa Kekait, H Shabri Isyar, SH mengaku akhir-akhirnya warga, utamanya  petani aren tadinya membuat gula merah beralih menjual tuak manis dengan pengawetan es di pinggir jalan-jalan. Tidak kalah penting, mereka digiurkan harga tuak yang diproses bisa memabukkan atau Miras tinggi. Sehingga tidak sedikit warga petani aren membuat tuak miras.

Guna antisipasi kian berkurangnya membuat gula merah, Shabri mengharapkan instansi terkait memberikan pembinaan dan pelatihan. Bila perlu petani  aren diberikan mesin pencetak gula merah dengan waktu singkat.

“Solusinya, kalau ingin tingkat pengangguran berkurang, pemerintah sebaiknya alokasikan dana untuk kesejahteraan masyarakat, utamanya petani aren kita,” tandas dia penuh harap  (gus) - 05              

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru