Dua sejoli Sebagai Pemulung

Km rumah panggungku Adalah Aseri dan Murdi warga Dusun Mekar sari Desa Santong Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara,murdi 5 tahun putus sekolah, kini berprofesi sebagai pemulung.
Anak pasangan A udin dan asanah ini mengaku, ia putus sekolah lantaran tidak ada biaya. Dalam keluarganya, ia adalah satu-satunya yang tidak menamatkan sekolah. Ia hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 4 SD. murdi putus sekolah itu pun disamping tidak ada biaya, juga disebabkan karena saudaranya banyak 6 orang yang harus di tanggung kedua orang tuanya. Ia sendiri merupakan anak ke 2 dari 6 bersaudara.

Sejak putus sekolah 5 tahun lalu, praktis pekerjaan sehari-hari yang dilakoninya adalah sebagai pemulung. Hal ini dilakukannya, karena prosfek sebagai pemulung itu dimata murdi sangat menjanjikan baginya. Bersama kerabat dekatnya aseri, profesi sebagai pemulung dijalaninya yang hingga saat ini sudah berlangsung hampir dua tahun

Dari 6 saudaranya, murdi adalah anak ke 2 yang tidak tamat SD. Sementara  orang saudaranya tamat hingga SMP dan semua sudah bekerja di malasia TKI. Sejak usia 7 tahun, murdi sudah berprofesi sebagai pemulung. Dalam sehari, katanya, kadang yang paling banter dapat 25 ribu kadang tidak ada sama sekali. “Itupun kalau lagi beruntung dapat 20 ribu hingga 25 ribu, tetapi ketika lagi apes, hanya dapat 15 dan bahkan tidak ada sama sekali,”katanya.namun mereka dapat membeli sepeda dari hasil mereka dapat kan.

murdi mengaku, memang sejak awal ia bersekolah di SDN 3 santong, tapi itupun hanya sampai kelas 4, lalu berhenti dengan alasan tidak ada biaya dan males ke sekolah Lalu profesi pemulung ini pun dilakoninya bersama temennya yang sudah terlebih dahulu menekuni bidang itu.

Bersama aseri , murdi tiap pagi dan bahkan seharian dengan berjalan kaki dibawah terik sinar matahari yang sangat menyengat, mereka terus menyusuri jalan utama jurusan santong dan bahkan sebagian jalan yang ada di desa sesait,dan disetipa ada acara kondangan. ini dijelajahinya. Profesi pemulung yang telah ditekuninya hampir dua tahun ini, dalam sehari kadang sekarung dan kadang lebih barang rongsokan plastic didapatkannya. “Ini pekerjaan mulia, kenapa harus malu, bahkan orang merasa empati ketika melihat kita sebagai pemulung,”katanya.(zen) - 01
 

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru