Telur Asin H.Sukur


Peluang untuk menjadi wirausaha tentu sangat terbuka asalkan kita ada tekad dan kemauan untuk meraih usaha itu. Walaupun bermodal kecil asalkan tekun dan semangat, usaha yang akan kita jalankan otomatis akan menjadi berkembang dan maju. Hal inilah yang dilakoni oleh seorang Purna TKI Korea H.Sukurdi asal Kampung Karang Buaya Pagutan Kota Mataram. Bermodalkan lahan 4 are dan sisa tabungan, H.Sukurdi mencoba mengajak temannya untuk membuka usaha ternak bebek dan telur asin. Dimana H.Sukurdi sebagai penyedia lahan dan temannya sebagai pemilik ternak, wal hasil ,Usaha telur asinpun berkembang hingga sekarang.
Berikut hasil wawancara tim Km Karaya dengan H.Sukurdi pemilik UD.Maya Telur Asin  yang ada di jalan RM panji Anom Kampung Karang Buaya Pagutan Timur Kota Mataram.
 Sambil mencuci telur bebek mentah dan mengaduk adonan abu secam .H Sukurdi dengan panjang lebar menuturkan bagaimana perjalanan Usaha Telur asin, sampai sekarang masih tetap eksis dan memiliki puluhan pelanggan.
 Usaha telur Asin, semenjak pulang dari korea Kata H.sukurdi, tidak pernah terlintas di benaknya, yang ada hanya , sepulang dari korea berencana  akan menunaikan ibadah haji bersama istrinya. Setelah pulang dari tanah suci, H Sukurdi baru berfikiran, bagaimana memanfaatkan tanah 4 are yang di beli hasil dari korea dan belum sempat dimanfaatkan.
Katar kutur bersama seorang sahabatnya yang sempat mampir di lahannya , dalam obrolan yang cukup serius tentang berbagai hal, muncullah ide agar lahan yang 4 are agar di manfaatkan untuk buka usaha, yakni usaha ternak bebek, nantinya telur yang mentah bisa jual atau bebek yang sudah apkir bisa dijual ke pedagang kaki lima yang menyajikan masakan siap saji seperti bebek goreng.
Sekitar awal tahun 2010, bermula dengan modal tanah 4 are kerjasama dengan sahabatnya sebagai penyedia bebek  sebanyak 300 ekor, dengan perjanjian hasil telur akan di kelola oleh H Sukurdi, dimana harga telur yang di berikan oleh penyewa lahan (red.Sahabat) sekitar 1150 perbutir dengan sistem pembayaran telur dilakukan akhir bulan pada saat rekapitulasi.
Dengan bermodalkan tanah 4 are,  usaha beternak bebekpun dimulai . Dalam perjalannya hasil telur yang di dapat dari 300 ekor bebek cukup lumayan hampir 50 persen lebih bebek bertelur setiap hari, sehingga membuatnya kewalahan kemana harus di pasarkan telur bebeknya, walaupun ada beberapa pelanggan yang datang ketempat Haji Sukurdi untuk mengambil telur..
“Ketika telur begitu banyak dan kita bingung harus bawa kemana, maka timbul pikiran, gimana kalau kita coba buat telur asin, walaupun hanya sedikit untuk di konsumsi, namun saking banyaknya telur, kita coba jajakan 10 butir sampai 20 butir di dalam kampung, dan alhamdulillah hasilnya cukup lumayan”.  Ujar H.Sukurdi
Karna produksi telur dari 300 ekor bebek yang di peroleh tiap hari terus meningkat, H.Sukurdi pun mencoba memasarkan keluar kampung, dengan harapan jumlah telur yang begitu banyak dapat dengan cepat dan mudah di beli atau memiliki pelanggan tetap sehingga tidak bingung harus di pasarkan kemana.
“Kita coba menjajakan ke pasar-pasar dengan memberikan no hp dan kartu nama atas nama UD.Maya Telur asin, dengan kita menyebarkan begitu banyak kartu nama, masa’ tidak ada yang nelpon. Naah beberapa hari kemudian ada sejumlah pedagang menelpon bahkan dari mulut kemulut mulai tersebar, sehingga banyak yang memesan baik itu telur mentah maupun telur asin, Alhamdulillah hingga sekarang kita rasakan perubahan atas peningkatan usaha telur asin”. Cerita H.Surdi sambil membersihkan telur bebek yang akan di jadikan telur asin.
Untuk harga telur H.Sukurdi mengatakan tergantung dari kondisi, seperti halnya di pasar tradisional,  dan pada waktu itu sekitar tahun 2010, harga telur asin mentah yang di tawarkan sebesar 1800 perbutir dan telur asin yang matang seharga 1900 perbutir. Selang beberapa bulan harga pakan ternak mulai naik sedangkan harga telur tidak serta merta harus di naikkan.
Saat itu kata H.Sukurdi, harga pakan ternak sebesar 360.000 dan kini sudah naik mencapai sekitar 400.000 per 50 kilogram pakan jenis konsentrat.
“jadi kita, begitu naik harga pakan ternak kita tidak bisa langsung menaikkan harga telur dan tidak bisa diterima oleh pelanggan, harus menunggu proses yang cukup lama melalui negosiasi sehingga pada akhirnya, Alhamdulillah di terima oleh pelanggan”. Ujar H.Sukurdi.
H.Sukurdi menambahkan, saat ini harga telur asin mentah di tawarkan sebesar 1900 perbutir dan harga telur asin matang sebesar 2000 rupiah perbutir dengan memperhitungkan biaya operasional yang telah di keluarkan seperti biaya pengolahan, pembelian garam, abu sekam padi dan lain sebagainya.
Terkait dengan produksi telur asin H.Sukurdi menjelaskan, telur mentah yang sudah dibungkus atau di balut dengan abu sekam  akan di diamkan selama 15 hari sejak awal produksi, misalkan di mulai tanggal 1, telur asin akan siap di konsumsi sekitar tanggal 14 sampai tanggal 15 hampir setengah bulan.
“Sebelum 15 hari atau sekitar 1 minggu, memang sudah jadi telur asin tapi kualitas dan rasanya sangat beda dengan penyimpanan 15 hari, makanya kita diamkan telur sampai 15 hari lamanya, baru bisa di pasarkan”. Tutur H.Sukurdi
Untuk menambah produksi telur asin H.Sukurdi juga mendatangkan telur bebek mentah dari Lombok tengah, kiriman telur yang didapatpun berkisar antara 30 sampai 40 trai atau sekitar 100 sampai 200 butir telur bebek dengan harga sekitar 1500 san perbutir.
Menyingung masalah izin usaha, H.Sukurdi menegaskan, kalau UD.Maya Telur Asin miliknya telah mengantongi izin, baik dari Disperindag Kota Mataram, Dinas Kesehatan dan BPOM Mataram. Bahkan dari Dinas Kesehatan dan Badan POM Mataram juga sering melakukan pengecekan terkait dengan kualitas dan nilai gizi dari telur asinnya.
Usahanya yang semakin berkembang, pemerintah daerahpun melirik dan mensuport melalui diadakannya pelatihan di semua jenis bidang usaha seperti pelatihan bagaimana cara agar usahanya tetap maju dan eksis, tidak hanya itu pemberian alat untuk menunjang produksi telur asinpun di dapat seperti Ember dan Panji.
Masalah bantuan modal, H.Sukurdi mengatakan sampai saat ini tidak ada pernah namanya suntikan modal dari pemerintah, modal usaha yang di gunakan sejak awal adalah modal sendiri walaupun sedikit tapi terus di kembangkan. Namun disaat ingin menambah modal, pernah Ia bersinggungan dengan Bank  melalui pinjaman KUR (Kredit Usaha Rakyat) sebesar 10.000.000  rupiah dengan tenggang waktu selama 2 tahun , yang dipergunakan untuk membeli bahan dan peralatan, namun sebelum jatuh tempo dua tahun pinjaman KUR yang 10.000.000 rupiahpun segera di lunasi.
Saat ini usaha telur asin H.Sukurdi dapat meraup omzet sekitar 3.000.000 sampai 5.000.000 rupiah perbulan dan telah merekrut tenaga kerja 1 orang untuk membantu produksi telur asinnya dan Ia berharap usaha telur yang di kelolanya bersama istrinya dapat berkembang terus sehingga dapat mampu menampung anak-anak yang putus sekolah. Tidak hanya itu kepada pemerintah di harapkan agar dapat memberikan sedikit tambahan modal. (Abdi)

- 01

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru