Gagal Panen, Petani Padi Rugi Dobel

Bisa dipastikan hampir semua petani yang memiliki lahan di kawasan yang terbentang di kedua sisi jalan antara Desa Tenga dan Desa Naru akan mengalami gagal panen tahun ini. Kawasan yang sebenarnya produktif ini menjadi langsa karena ulah banjir yang keterusan. Terhitung sudah 5 kali sejak awal 2014 kawasan ini diluapi banjir.

Sehingga tidak heran, jika padi yang ditanam tidak mampu tumbuh normal. Celakanya lagi, para petani menjadi lebih merugi karena lahan mereka telah ditanami 2 kali pada musim ini. Setiap kali padi mulai tumbuh banjir selalu datang menggenang.

“Nggak tau ini, keluarga saya tahun ini akan makan apa?” keluh H. Imran (50) kepada Jompa Mbojo ketika ia sedang memandangi padinya yang terlihat mersik. “Kita rugi dobel tahun ini. Tapi mau bilang apa yang rugi bukan hanya saya saja. Lagipula ini kan ulah alam, kita sudah cukup berusaha” Imbuhnya pasrah.

Menurut H. Imran, jika tahun-tahun sebelumnya 2 petak lahan yang ia garap mampu memnghasilkan sekitar total 70 karung-pupuk. Jumlah yang menurutnya besar itu tahun ini bukan lagi menurun tapi anjlok sampai titik nol. Karena tanaman padinya sudah tidak layak untuk diurus lebih lanjut. “Nggak masuk akal kita harus tanam kembali untuk yang ketiga kalinya, sedangkan musim hujan sudah akan berakhir,” katanya dengan nada perih.

Kerugian lain akibat gagal panen kali ini, masih menurut H. Imran adalah, mereka harus kembali menghabiskan tenaga dan biaya untuk membersihkan sisa-sisa tanaman padi ketika di musim kemarau nanti lahan mereka sudah akan kembali digarap.

Bisa saja para petani tersebut menggarap ulang lahan mereka di musim kemarau dengan metode Tawali (usaha padi di musim kemarau, red). Tapi sepertinya itu tidak akan banyak yang melakukannya. Karena padi di musim kemarau kalah popular dengan tanaman bawang. [Adn/03]

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru