Usaha Melawan Rentenir

Sebagai warga kampung media, maka saya berkewajiban menyebarkan informasi dan mengajak masyarakat untuk bergabung di Kampung Media. Kegiatan ini saya awali dengan mengajak teman-teman dekat saya. Al hamdulillah kebanyakan teman-teman merespon dengan sangat baik dan meraka menyatakan ingin segera bergabung di Kampung Media.

Untuk hari ini saya mendatangi seorang teman yang bernama Adenan yang bertempat tinggal di Dusun Merca, Desa Salut, Kecamatan Narmada. Saya menyampaikan tentang beberapa hal terkait dengan Kampung Media, dan dia sangat tertarik untuk bergabung, tapi dia belum familier dengan internet dia berpesan kepada saya minta diajari dan sayapun menyanggupi untuk mengajarnya.

Kisah pertama yang disebutkan oleh Adenan dan dia ingin sekali menulis tentang cerita itu di Kampung Media tapi dia sadar masih belum bisa sehingga diapun menyuruh saya untuk menulis cerita ini dan dia ingin mempublikasikannya di Kampong Media.  

Menurut Adenan “Pada tahun 2007,kami beserta 14 orang warga Dusun Merca, Desa Salut, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, sangat perihatin melihat maraknya praktek renten (riba) yang dilakukan oleh lembaga atau perorangan”.

“Banyak orang melakukan renten mengatas namakan koperasi, mereka memberi  pinjaman kepada masyarakat dengan bunga yang sangat tinggi, namun masyarakat tidak pernah menyadarinya, karena cara yang dipakai adalah dengan cara menagih setiap hari dan maksimal pinjaman hanya Rp.500.000,-“. tambah Adenan.

Dari penomena itulah maka 14 orang tersebut membentuk kelompok usaha yang mereka beri nama ”ADRIKNA”. Untuk pertama kalinya 14 orang itu mengeluarkan dana masing-masing Rp.200.000,-. Sehingga terkumpullah dana Rp.2.800.000,-. Dari modal tersebut anggota berhak mendapat pinjaman dengan pengembalian sukarela tanpa menghitung bunga. Dan sampai saat ini kelompok ini bertambah menjadi 26 orang.

Seiring perkembangan zaman maka saat ini sudah terkumpul modal usaha menjadi Rp.180.000.000,- (seratus delapanpuluh juta rupiah). Untuk mengembangkan dana tersebut setiap anggota yang ingin meminjam dana tersebut mereka mamakai pembagian tiga bagian. Satu bagian dari keuntungan dikembalikan kekelompok sebagai pengembangan modal usaha.

Menurut Adenan kelompok usaha ini sampai saat ini belum memiliki badan hukum. Inilah yang menyebabkan keingin tahuan dari Fakultas Syariah IAIN Mataram sehingga beberapa waktu yang lalu kelompok ini pernah dijadikan tempat pengabdian masyarakat dari Fakultas Syariah IAIN Mataram. Karena kedatangan tamu dari Fakultas Syariah ini maka kelompok ini dijanjikan uang pembinaan, namun sampai saat ini tidak ada realisasinya.(03).

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru