logoblog

Cari

Cagar Biosfer Tambora : Peluang Akselerasi Bagi Kinerja Ekonomi Kabupaten Bima?

Cagar Biosfer Tambora : Peluang Akselerasi Bagi Kinerja Ekonomi Kabupaten Bima?

Awal Juli 2019, Teluk Saleh, Moyo dan Tambora (SAMOTA) yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat diresmikan menjadi salah satu cagar biosfer

Ekonomi

Fajrin Hardinandar
Oleh Fajrin Hardinandar
24 Juli, 2019 01:15:20
Ekonomi
Komentar: 0
Dibaca: 3026 Kali

Awal Juli 2019, Teluk Saleh, Moyo dan Tambora (SAMOTA) yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat diresmikan menjadi salah satu cagar biosfer dunia. Peresmian tersebut dideklarasikan dalam kegiatan The 31st Session of The Man and The Biosphere Programme International Coordinating Council di Paris yang merupakan agenda tahunan UNESCO. Ini bukan kali pertama Provinsi NTB menerima penghargaan internasional di bidang konvensi keanekaragaman hayati. Di tahun 2018 lalu, Taman Nasional Rinjani telah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer dunia sebelum SAMOTA. Artikel ini berupaya untuk menyelami algoritma konsepsi cagar biosfer yang baru saja dideklarasikan untuk Kawasan Gunung Tambora yang merupakan salah satu bagian dari SAMOTA dalam kerangka mengakselesasi kinerja ekonomi dilihat dari pontensi kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Bima. Kaitannya dengan hal tersebut, selain dari mempertukarkan penelitian ilmiah, pemantauan global dan pelatihan pakar, Tambora sebagai cagar biosfer dunia juga diharapkan dapat mempercepat pencapaian Suistainable Development Goals (SDGs) di Kabupaten Bima dan NTB melalui perpaduan konsep alam, budaya, sejarah dan pariwisata. Penetapan Cagar Biosfer tambora tersebut linier dengan rencana tata ruang wilayah Kabupaten Bima tahun 2011-2031 yang diantaranya memuat tujuan pengembangan basis pariwisata. 

Melirik kinerja ekonomi Kabupaten Bima, di manaTahun 2017 tingkat kemiskinan berada pada angka 15.1 persen labih baik dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 15.31 persen. Namun masih jauh lebih tinggi dari dua kabupaten dan kota yang menghapitnya yaitu Kota Bima sebesar 9.27 persen dan Kab. Dompu 13.43 persen. Kemudian laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan tahun 2017 sebesar 4.69 persen, di mana angka tersebut jauh lebih rendah dari pencapaian tahun sebelumnya yaitu sebesar 6.26 persen. Sebaliknya, meskipun lebih rendah dibanding PDRB Kab. Bima, laju pertumbuhan PDRB Kota Bima justru tumbuh konsisten dengan pertumbuhan di tahun 2016 sebesar 5.75 persen dan menjadi 5.78 persen di tahun 2017. Sementara itu, presentase buta huruf tahun 2017 di Kab. Bima sebesar 10.59 persen jauh lebih tinggi dibanding Kota Bima yang hanya berkisar pada angka 6.78 persen dan Dompu 8.42 persen. Begitupun dengan IPM di Kab. Bima sebesar 65.01 poin lebih rendah dibanding Kota Bima 74.36 poin dan Dompu 66.33 poin. Di mana IPM Kab. Bima berada pada urutan ke 7 terendah dari 10 kabupaten/Kota di Provinsi NTB. Deskripsi infografis tersebut menunjukkan bahwa indikator kinerja perekonomian di Kabupaten Bima masih jauh dari yang diharapkan. Pasalnya, baik kemiskinanan, laju pertumbuhan ekonomi dan indeks pembangunan manusia masih menunjukkan disintensif dibanding dengan kabupaten kota dalam lingkup administrasi yang sama dengan asumsi bahwa karakteristik perekonomian dari kabupaten/kota di Provinsi NTB adalah sama. 

Pembangunan pariwisata dengan memanfaatkan potensi lokal memang merupakan peluang yang masif dalam upaya meningkatkan outcame daerah. Dalam model pertumbuhan ekonomi baru (New economic growth) bahwa potensi lokal suatu daerah merupakan modal dasar yang menjadi faktor produksi bagi peningkatan output. Perubahan modal tersebut merupakan sesuatu yang endogen yang di mana ditentukan oleh faktor-faktor perkembangan dan pemanfaatan yang ada dalam wilayah tersebut. Oleh sebab itu dalam hal pemanfaatan Taman Nasional Tambora sebagai cagar biosfer baru untuk pertumbuhan, maka kebijakan yang efektif dan tepat sasaran menjadi faktor endogen dalam menentukan perubahan pada output yang dihasilkan, yaitu tingkat pertumbuhan yang tinggi dengan keberhasilan mengurangi kemiskinan dan ketimpangan di dalamnya. Untuk menunjang hal tersebut dibutuhkan sarana yang memadai agar potensi yang ada dapat dengan maksimal diberdayakan. 

Sebagaimana pada umumnya objek pariwisata, cagar biosfer Tambora juga memerlukan penunjang agar produktivitasnya dapat dirasakan  oleh semua lapisan masyarakat. Seperti infrastruktur jalan yang memadai, kedekatan dengan akomodasi penginapan dan rumah makan, keamanan sekitar, kebersihan dan ketersediaan serta jarak pasar. Di area sekitar gunung tambora sendiri tercatat bahwa belum terdapat akomodasi penginapan, hotel, homestay atau sejenisnya baik di wilayah Soromandi, Sanggar dan Tambora. Para pengunjung yang memiliki tujuan untuk mendaki gunung tambora mungkin tidak berencana untuk mencari penginapan. Berbeda hal-nya dengan tujuan pariwisata air terjun di sekitar tambora, sarae nduha dan pulau satonda. Untuk pengunjung dengan tujuan pariwisata tersebut pasti membutuhkan akses penginapan, rumah makan dan lainnya agar dapat menikmati keindahan tambora berhari-hari, khususnya untuk pengunjung dari luar pulau sumbawa atau mancanegara. Untuk akomodasi penginapan, baru dapat ditemukan di area perkotaan Kabupaten Dompu dengan jarak tempuh tiga jam lebih dari tambora.  Sementara ruas jalan yang telah diaspal baik jalan yang berstastus provinsi maupun kabupaten sepanjang 852.65 km dari total panjang jalan 1,283.33 km, di mana di antaranya sepanjang 372.82 km berupa jalan tanah dan 57.86 km kerikil. Akomodasi bukanlah hal yang sepele dalam membangun basis pariwisata, tapi merupakan determinan bagi jumlah dan intensitas pengunjung. Semakin banyak pengunjung maka potensi kesejahteraan masyarakat sekitar juga semakin meningkat.

Perbaikan infrastruktur jalan merupakan basis industrial dalam parawisata setelah keamanan dan kebersihan. Konektivitas jalan yang menghubungkan area-area komunal dengan pinggir desa, pantai dan kota akan menyebabkan alur distribusi akan jauh lebih efektif dan efisien. Hal tersebut juga memungkinkan untuk  munculnya investasi pada sektor akomodasi penginapan. Pembangunan dan perbaikan infrastruktur seharusnya tidak hanya diprioritaskan pada tambora sebagai satu-satunya cagar biosfer di kabupaten Bima, tapi juga sebagai prakondisi pengembangan sektor pariwisata di seluruh kabupaten Bima. Sebab kabupaten Bima memiliki banyak objek wisata tapi masih jauh dari kelayakan infrastruktur dan keamanan. Semakin baik infrastruktur maka semakin besar pula potensi sektor-sektor lain akan tumbuh. Dengan adanya proyek infrastruktur, besar potensi sektor konstruksi akan ikut tumbuh, begitupun dengan transpotasi dan pergudangan. Impact dari konektivitas yang dibangun melalui infrastruktur jalan akan membuka pasar semakin luas sehingga memungkinkan investasi-investasi sektor lainnya ikut tumbuh seperti real estate, perdagangan, jasa dan akan meningkatkan efisiensi sektor pertanian. Akumulasi dari seluruh mulplier tersebut selanjutnya akan meningkatkan nilai Produk Domestik Regional Bruto.

 

Baca Juga :


Namun hal yang tidak kalah urgen adalah bagaimana memberdayakan masyarakat di sekitar tambora untuk memanfaatkan momen tersebut. Artinya masyarakat pun harus ikut andil dalam upaya pembangunan. Tidak hanya sebagai price taker, konsumen atau pengecer, tapi juga sebagai price making. Oleh karena itu, pemerintah memiliki peran ganda yaitu selain memastikan bahwa infrastruktur baik sebagai prasyarat pertumbuhan, juga memastikan bahwa masyarakat setempat terlibat sebagai pemain dalam pasar. Dalam hal ini pemerintah menjadi bagian dari network linking yang berfungsi sebagai stimulus bagi masyarakat untuk dapat terlibat, tumbuh dan ikut berkembang biak dalam pasar. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan cara-cara konvensional seperti pemberian akses pemodalan serta pelatihan kepada masyarakat, pemberdayaan karang taruna dan kelompok bakulan dan pemberian subsidi BBM untuk perahu boat sarana transportasi satonda.

Kita pasti tidak akan rela melihat hotel-hotel, homestay, rumah makan mewah milik produsen luar menjamuri sekitaran cagar biosfer tambora atau bahkan di area-area pariwisata di kabupaten Bima lainnya, sementara masyarakat lokal hanya sebagai penjaga penginapan, tukang parkir, dan sejenisnya. Pada dasarnya hal tersebut juga membuka akses lapangan kerja semakin luas dan meningkatkan pendapatan masyarakat, juga berpotensi mengurangi kemiskinan, tapi belum tentu mengurangi efek ketimpangan. Oleh sebab itu segala persiapan harus direncanakan dan dimatangkan, baik dari sisi pembangunan fisik maupun non fisik. Peningkatan kinerja ekonomi kabupaten Bima tidak serta-merta bisa langsung mengalami akselerasi yang fantastis lantaran ditetapkannya tambora sebagai cagar biosfer dunia. Tapi harus dibarengi dengan kerja keras, kesiapan, perencanaan yang matang, analisis isu stratetgis, pelonggaran dan alokasi badget yang tepat sasaran dan menajemen birokrasi yang transparan juga akuntabel. 

 



 
Fajrin Hardinandar

Fajrin Hardinandar

Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Diponegoro. Instagram : @fajrin_hardinandar

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan