logoblog

Cari

Dihajar Perang Dagang Amerika Dan China, Defisit Neraca Perdagangan Indonesia April 2019 Semakin Memburuk

Dihajar Perang Dagang Amerika Dan China, Defisit Neraca Perdagangan Indonesia April 2019 Semakin Memburuk

Berdasarkan data yang dilansir melalui Badan Pusat Statistik, desifit April 2019 mencapai US$ 2,5 miliar atau sebesar -2,60%. Sejak juli 2013, defisit

Ekonomi

Fajrin Hardinandar
Oleh Fajrin Hardinandar
24 Juni, 2019 02:07:32
Ekonomi
Komentar: 0
Dibaca: 6256 Kali

Berdasarkan data yang dilansir melalui Badan Pusat Statistik, desifit April 2019 mencapai US$ 2,5 miliar atau sebesar -2,60%. Sejak juli 2013, defisit April 2019 merupakan defisit terbesar yang Indonesia capai di mana pada tahun tersebut defisit neraca perdagangan sebesar US$ 2,3 miliar. Sejak quartal pertama tahun 2017 defisit neraca perdagangan mulai menunjukkan trend yang memang meningkat, meskipun sempat kembali turun pada quartal ke tiga di tahun yang sama menjadi -1,76% dari quartal sebelumnya sebesar -1,86%, hingga pada quartal ke empat di tahun yang sama defisit transaksi berjalan semakin memprihatinkan, di mana berada pada angka -3,59%. Dibandingkan dengan quartal pertama 2018, defisit neraca transaksi berjalan quartal pertama 2019 semakin melebar, artinya sejak interval waktu tersebut terjadi peningkatan defisit sebesar 0,39%. Tidak dapat dipungkiri bahwa goncangan ekonomi global telah berdampak pada perkonomian di Negara-negara dunia ke tiga khususnya, salah satunya di Indonesia. Defisit transaksi berjalan Indonesia tidak terlepas dari faktor eksternal tersebut, di mana faktor eksternal yang paling kuat adalah perang dagang antara Negeri paman sam dan tirai bambu.

Sejak 10 bulan terkahir, semenjak Amerika mulai menetapkan tarif impor atas produk China, kondisi ekonomi global mengidikasikan adanya pelemahan perekonomian. Terlebih lagi setelah China membalas A.S dengan menerapkan tarif impor terhadap produk A.S, kondisi perdagangan di kedua negara semakin memanas. Hal ini awalnya dipicu oleh ketidakpuasan Donal Trump atas tingginya defisit transaksi berjalan A.S atas China, oleh sebab itu Trump berupaya melakukan proteksi terhadap barang-barang impor China. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Menteri Keuangan, Sri mulyani, Ph.D dan Menteri Perekonomian Darmin Nasution, Ph.D, bahwa perang dagang antara kedua negara tersebut kemungkinan akan berlangsung dalam jangka panjang. Ternyata benar, jum'at (10/5/19) lalu Amerika kembali menerapakan tarif sebesar 25% terhadap barang-barang impor China, setelah sebelumya barang impor China dikenakan tarif 10 persen. Tarif tersebut berlaku untuk  hampir 5.700 kategori barang. Selang beberapa hari kemudian China membalas dengan kembali menerapkan tarif impor atas barang Amerika menjadi 25%, atau senilai US$ 60 miliar.

Di tengah ketegangan kedua negara dengan pertumbuhan ekonomi yang besar tersebut, tentu tidak mudah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5%, pasalnya perang dagang tersebut akan memberikan sinyal pelemahan ekonomi global dan nilai inflasi domestik yang meningkat. Tercatat pertumbuhan ekonomi Global hanya mampu bertahan di angka 3,7%, sementara International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan ekonomi global masih akan bertender di angka sekian jika perang dagang masih terus berlajut. Pada kawasan negara maju, pertumbuhan ekonomi juga diproyeksikan melemah untuk tahun 2019, khususnya di kawasan Eropa, Jerman, Itali, Inggris dengan pertumbuhan hanya sebesar 1,9%. Sementara proyeksi untuk Negara-negara berkembang di mana pertumbuhan ekonomi Negara dunia ke tiga diperyoksikan hanya mampu bertahan di angka 4,7 persen, angka tersebut stagnan dan hanya berseger sedikit sejak tahun 2015.

Indoensia sebagai mitra dagang A.S dan China juga terkena imbasnya. Pasalnya, total non migas Indonesia ke A.S dan China hingga januari 2019 sebesar 26,17% atau sebsar US$ 48,97 miliar, angka yang tidak kecil bagi Indonesia. Prediksi ekonom Indef, Bhima Yudistrira menyatakan bahwa kemungkinan besar ekspor kita di kedua Negara tersebut akan melemah, oleh karena hampir sebagian besar ekspor non migas merupakan bahan mentan, yang di mana bahan mentah tersebut akan kembali diolah di Negara tujuan ekspor Pengurangan aktifitas produski industri Amerika dan China akibat proteksi, ditambah lagi dengan masyarakat di kedua Negara tersebut mengurangi konsumsinya akibat dari meningkatnya harga barang-barang impor yang dominan dikonsumsi masyarakat di kedua Negara tersebut, secara otomatis pasokan bahan mentah dari Indonesia juga akan berkurang di Kedua Negara tersebut, hasilnya adalah kinerja ekspor kita melemah. Pelemahan kebutuhan pasokan bahan baku tidak saja terjadi di Amerika dan China yang terlibat perang dagang, tapi juga berimbas pada Negara-negara lainnya, hal ini tentunya akan memicu anjloknya harga komoditas bahan baku dunia, dan tentunya tidak ketinggalan, komoditas unggulan ekspor kita seperti sawit, batu bara dan karet akan turut mengalami pelemahan baik dari sisi harga maupun produksi untuk kebutuhan ekspor. Kondisi tersebut akan semakin memburuk jika surplus produksi di kedua Negara yang terlibat perang dagang tersebut membanjiri pasar domestik kita, sementara regulasi pembatasan impor di Indonesia belum begitu kuat. Hal tersebut dapat kita liihat, di mana nilai impor barang konsumsi dari Amerika pada April 2019 meningkat menjadi 24% dari bulan sebelumnya, dan Impor China juga mengalami peningkatan menjadi 22% (Yoy). Kondisi permintaan domestik atas barang impor semakin meningkat tajam menjelang pemilu dan Ramadhan, hal tersebut yang memicu defisit transaksi berjalan yang semakin melebar. Belum lagi, masih banyaknya proyek infrastruktur di berbagai wilayah di Indonesia yang membutuhkan bahan impor, tentunya hal ini akan semakin memperburuk defisit neraca perdagangan kita.

Bagi sebagian Negara dapat mengambil manfaat dari perang dagang tersebut, untuk memacu ekspor mereka. Negara-negara di asia seperti Thailand, Vietnam dan Malaysia berhasil meningkatkan ekspor mereka dan memanfaatkan peluang perang dagang. Akhir tahun 2018, tercatat pertumbuhan ekspor Thailand akibat perang dagang sebesar 0,54% dan impor sebasar 0,13%, kemudian Vietnam meraih ekspor sebesar 0,77% dengan nilai impor sebesar 0,26%, sementara Malaysia dengan pertumbuhan ekspor sebesar 1,89% dan impor hanya sebesar 0,34 persen. Pertanyaan yang kemudian muncul, mengapa Indonesia tidak dapat mengambil manfaat dari perang dagang dan justru masuk dalam jurang defisit yang parah ? Wakil Ketua umum kamar dagang  dan industri (Kadin) dalam kontan edisi Mei 2019 menjelaskan bahwa sebagian besar produk yang dikenakan tarif oleh kedua negara yang terlibat perang dagang tersebut tidak diproduksi di Indonesia. Sejauh ini Indonesia hanya mengeskspor produk komoditas ke AS dan China, jika pun ada yang diproduksi melalui industri di Indonesia, masih sulit bersaing di pasar global. Untuk dapat memanfaatkan peluang dari eskalasi perang dagang, Indonesia harus bersaing dengan Korea Selatan, Taiwan dan Jepang untuk memasok produk-produk elektronik ke Amerika, sementara untuk produk otomotif Indonesia akan bersaing dengan Meksiko dan Kanada, juga untuk produksi olahan mentah, Indonesia kalah bersaing dengan Vietnam untuk produk tekstil, furnitur dan alas kaki. Sejak Januari hingga April tahun ini, ekpor Indonesia terbukti melemah sebesar 5,3% dan ekspor ke China juga melemah sebesar 10,8 persen. 

Selain berdampak pada transaksi perdangangan, perang dagang A.S dan China menyebabkan rupiah kian melemah, dari harian kontan April 2019, kami mencatat posisi rupiah berada pada Rp 14.700/dollar AS kamis (16/5/19) lalu. Kondisi tersebut diperparah setelah The Fed semakin masif menaikkan suku bunga acuan sebanyak 3 kali semenjak tahun 2017 dan sebanyak 4 kali di tahun 2018. Kenaikan suku bunga The Fed mengancam kinerja pasar keuangan global, di mana pada tahun 2018 tercatat IDX defisit sebesar -8,74%, FTSE -9,26%, Nikkel -9,88%, Strait Times -13,36% dan Hanseng -19 persen. Depresiasi rupiah, merupakan keniscayaan dari dampak perang dagang. Pasalnya, permintaan domestik meningkat menjelang ramadhan dan sebelumnya telah melwati masa panjang pemilu, sementara kemampuan ekspor kita menurun, otomatis substitusi impor menjadi solusi, mengimpor artinya membutuhkan dollar sebagai alat transaksi, alhasil permintaan akan dollar AS meningkat dan dollar menguat terhadap rupiah. Kondisi ini semakin diperparah oleh cash out flow, di mana aliran dana keluar menuju ke Negara yang Bank-bank-nya menawarkan suku bunga acuan lebih tinggi. Strategi ini digunakan oleh Amerika untuk kembali menarik dana yang keluar untuk kembali ke Amerika. Di sisi lain Bank Indoensia masih memilih bertahan dengan bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 6%, namun kebijakan moneter tersebut belum mendapat sinyal baik bagi penguatan rupiah. 

Strategi peningkatan ekspor memang menjadi salah satu strategi yang seharusnya dilakukan oleh penentu kebijakan, yaitu dengan memperluas pasar di Afrika atau di Amerika latin seperti Argentina. Menurut Enggartiasto Lukita, Menteri perdagangan, Indonesia bisa memanfaatkan Argentina untuk memasuki pasar regional di Amerika Latin, sebaliknya Argentina dapat memanfaatkan peluang ini untuk ekspansi ke pasar ASEAN. Selain itu kebijakan Moneter BI masih dinanti dan tentunya tidak ketinggalan kebijakan fiskal terkait tax dan expenditure mungkin akan kembali dipertimbangkan. Meskipun pada kenyataannya, prediksi Investor bahwa pasca pemilu keadaan akan kembali membaik, justru sebaliknya konflik masih berlanjut, hal tersebut juga berdampak pada sikap skeptis investor terhadap kepastian investasi dalam Negeri. Hal yang tidak kalah penting adalah, kemampuan dalam Negeri untuk menciptakan Industri yang memiliki daya saing tinggi perlu ditingkatkan, salah satunya yaitu dengan upaya pelatihan, keterampilan, pendampingan, pemodalan dan intervensi pemerintah atas pembangunan dan pembinaan industri-industri dalam dalam Negeri.

Belakangan ini, isu pelemahan transaksi berjalan menjadi ramai diperbincangkan dan menjadi alat untuk mempolitisasi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses metodologis terkait hal tersebut. Mural-mural di media sosial memperlihatkan bahwa elite yang berkuasa seakan menyalahkan pemilu dan ramadhan yang menyebabkan terjadinya defisit transasksi berjalan.  Untuk meluruskan kekeliruan nalar tersebut, sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, bahwa dalam masa pemilu dan ramadhan permitaan akan barang semakin meningkat, kondisi ini tidak didukung oleh kemampuan produksi dalam Negeri akibat dari perang dagang yang melemahkan ekspor dan harga bahan mentah, hal tersebut diperburuk dengan berjamurnya produk impor dari Negara yang surplus produksi, hasilnya adalah pelemahan neraca transaksi perdagangan semakin memburuk. Jadi bukan pemilu dan ramadhannya yang disalahkan terkait dengan melemahnya trasaksi berjalan, tapi logika ekonomi dibalik itu yang menjadi basis berfikirnya. 

 

Baca Juga :


 

Sumber :

[1] Tabloid Kontan.Ancaman dan Peluang Perang Dagang. Edisi 20-26 Mei. No. 33 XXIII, 2019.

[2] Dr. Enny Sri Hartati. Proyeksi Ekonomi Indonesia 2019. Adu Strategi Hadapi Perang Dagang. Paparan INDEF. 

[3] Badan Pusat Statistik Nasional. 2019. 

 



 
Fajrin Hardinandar

Fajrin Hardinandar

Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Diponegoro. Instagram : @fajrin_hardinandar

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan