logoblog

Cari

PELATIHAN PENGOLAHAN HASIL HUTAN

PELATIHAN PENGOLAHAN HASIL HUTAN

 “ Jadikan Malas Sebagai Dosa Besar “   Kawasan Utara Lombok Tengah tidak hanya terkenal dengan keindahan wisata alam yang menarik dan mempesona,

Ekonomi

KM Angin Daye
Oleh KM Angin Daye
29 Oktober, 2017 15:19:17
Ekonomi
Komentar: 0
Dibaca: 10222 Kali

 “ Jadikan Malas Sebagai Dosa Besar “

Kawasan Utara Lombok Tengah tidak hanya terkenal dengan keindahan wisata alam yang menarik dan mempesona, akan tetapi sumber daya alamnya tidak kalah penting. wilayah yang subur serta keterpenuhan akan sumber daya air menjadi bagian komuditi unggulan, belum lagi terkait hasil pertanian dan perkebunan serta perikanannya yang cukup membantu bagi terpenuhinya kebutuhan masyarakat.

Hasil pertanian dan hasil hutan (hkm) misalnya, dikala musim panin tiba, hampir semua komuditas atau hasil pertanian dan perkebunan di hkm seperti pisang, talas, singkong dan beberapa tanaman lainnya justru dijual dengan harga yang sangat murah.

Melihat kondisi seperti diatas, lembaga pengembangan sumber daya kepemudaan (lpsk) lombok nusa tenggara barat yang ada di desa lantan kecamatan batukliang utara membuat suatu terobosan berbentuk pelatihan pengolahan hasil hutan dalam mendorong terbentuknya wira usaha masyarakat pinggir hutan yang telah dilaksanakan selama dua hari yaitu hari jum’at dan sabtu, 27-28 oktober tahun 2017 di sekretariat lpsk di desa lantan.

Selain itu, dikawasan utara Lombok tengah juga terdapat beratus jenis tanaman dan berbagai jenis hewan besar dan kecil yang dipelihara oleh masyarakat. Hasil utama yang dikenal oleh masyarakat umum di luar kawasan berupa sayur dan buah seperti: pisang, nangka, durian, manggis dan rambutan serta kopi dan coklat.

Dalam pengolahan hasil hutan, kebun dan sawah, hampir di semua desa di kawasan ini terutama para perempuan, sudah mulai mengorganisasikan diri, walaupun masih banyak yang bersifat sporadis dan musiman. Ini dapat di lihat dengan munculnya kelompok-kelompok perempuan yang berkegiatan prosesing makanan ataupun kerajinan dan anyaman-ayaman.

Seperti yang di eksplorasikan oleh Herman selaku Direktur Lembaga Pengembangan Sumber Daya Kepemudaan (LPSK) Lombok Nusa Tenggara Barat pada acara pembukaan pelatihan yang bertujuan untuk Mendorong terciptanya usaha yang berkelanjutan, memanfaatkan serta lebih sensitive dalam melihat dan menciptakan peluang. Jaringan pemasaran merupakan satu hal yang tidak dapat dipisahkan dengan usaha atau hasil produk yang dikembangkan. Tidak akan terlalu maksimal hasil yang diperoleh jika pemasaran atau jaringan pemasaran tidak dimiliki atau dikuasai.

Herman juga menjelaskan bahwa pelatihan yang diselenggarakan selama dua hari sudah mengundang para instruktur yang sudah berpengalaman dalam usaha-usaha yang digeluti oleh masyarakat pada umumnya, adapun beberapa instruktur yang di undang dalam pelatihan tersebut yaitu Ibu Suci Hati (Disperindag Kabupaten Lombok Tengah), Bapak Irfan Dilaga, SH. MH (disperindag Kabupaten Lombok Tengah), Bapak Jayadi, S.Hi (Ketua Lakpesdam NU Kota Mataram) dan Baiq Maesarah, S.Pd (Purna PSP3).

Peserta yang di undang untuk mengikuti pelatihan  tersebut kurang lebih berjumlah 40 orang yang berasal dari beberapa dusun yang ada di desa lantan dan sengaja di pilih peserta perempuan semua, karena disamping mereka tidak memiliki pekerjaan tetap juga mereka harus diberikan pemahaman dan keterampilan supaya tidak hanya mengandalkan uang pemberian suami.

Kepala Desa Lantan juga memberikan apresiasi kepada LPSK atas inisiatif yang luar biasa telah berkifrah dan dapat membantu warga masyarakat yang ada di kawasan pinggir hutan, bahkan dalam sambutan pembukaan pelatihan, kepala desa lantan berharap kegiatan seperti ini sering di lakukan supaya masyarakat lebih peka dalam melihat potensi dan peluang.

Mengembangkan kegiatan ekonomi lokal berbasis produk unggulan menjadi suatu hal yang harus dikedepankan. kondisi-kondisi yang tercipta dikawasan terkait pengeloaan hasil sda mendorong desa dan masyarakat sekitar kawasan memikirkan produk unggulan yang seharusnya diupayakan secara ekonomis. upaya ekonomi ini dapat dilakukan dengan: membentuk karakter masyarakat pinggir hutan untuk berwirausaha, menjawab ketergantungan ekonomi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagai media untuk membuat perkumpulan usaha yang ada di masyarakat pinggir hutan, membangkitkan ekonomi masyarakat melalui pengolahan barang mentah menjadi barang jadi, melatih dan mengembangkan keterampilan berwirausaha, menciptakan sistem tatakelola sumber daya alam dengen memperhatikan kelestarian lingkungan sekitar, menjamin kualitas produksi tetap baik (jaminan produksi) dan menjual hasil produksi dalam bentuk sudah jadi sehingga nilai jual lebih tinggi.

Pada hari terakhir pelatihan, Direktur Lembaga Pengembangan Sumber Daya Kepemudaan (LPSK) Lombok Nusa Tenggara Barat memberikan arahan dan sekaligus menantang ibu-ibu peserta pelatihan yang serius untuk membentuk wira usaha masyarakat pinggir hutan, mengenai darimana sumber dana yang di gunakan, saya siap membantu ibu-ibu dari pinjaman dana Koperasi Serba Usaha (KSU) Lantan Kreatif Abadi  (ungkap Herman secara lantang di depan peserta sebelum penutupan).

Peserta pelatihan pengolahan hasil hutan sangat senang dan bahagia mengikuti semua tahapan pelatihan, disamping dengan para instruktur atau pemateri yang sudah berpengalaman, juga cukup menyenangkan karena enak dan banyak permainan supaya tidak cepat bosan dan ngantuk.

Produk yang dikembangkan memang akan menjadi sangat beragam tergantung situasi di desa masing-masing. Membaca kondisi Kawasan Utara Lombok Tengah (KAWLA) dengan kondisi tanah yang sangat subur, banyak menghasilkan produksi sayur dan buah yang sangat berlimpah.

 

Baca Juga :


Hal terpenting yang perlu dilakukan setelah adanya produk unggulan di satu lokasi adalah bagaimana agar produk tersebut tidak dipasarkan keluar dalam bentuk barang mentah. Komunitas harus mengupayakan agar produknya berupa barang jadi yang harganya bisa lebih baik. Pisang misalnya dipasarkan dalam bentuk kripik pisang atau pisang sale atau bentuk lainnya. Proses ini dapat menciptakan proses-proses ekonomi lanjutan pada produk tersebut. Untuk bisa dipasarkan dalam bentuk kripik pisang atau pisang sale. Dan hal yang cukup substansial adalah tentu produk harus dikemas dengan baik. Ini berarti harus ada kegiatan yang mengupayakan bentuk kemasan produk .

 

Kemudian dengan lahirnya banyak kelompok dan organisasi-organisasi di masyarakat yang hampir di semua desa di kawasan pinggir hutan, diharapkan mampu menjawab semua persoalan tersebut dengan melahirkan semangat persaingan yang sehat dan juga system pemasaran bersama, namun kelompok dan organisasi-organisasi masyarakat tersebut masih berbentuk kelompok-kelompok kecil dan tersekat-sekat, kurang solid dan kurang mandiri bahkan cenderung bersaing dengan tidak sehat.

 

Tingkat pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang teknologi pengelolaan hasil SDA masih relatif rendah, sehingga pengelolaan hasil SDA belum benar-benar berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat pinggir hutan, hususnya masyarakat miskin. selain karena kemampuan sumber daya manusia yang terbatas dalam mengelola hasil SDA, juga yang selalu menjadi hambatan adalah minimnya akses informasi pasar dan menagemen marketingnya.

 

Untuk itu perlu adanya sinergisitas antara pemerintah daerah, para pelaku industry pariwisata, kelompok-kelompok usaha masyarakat dan organisasi kemasyarakatan untuk mewujudkan hasil yang diharapkan seperti:

  • Peningkatan kapasitas SDM
  • Peningkatan kualitas produk
  • Pengolahan paska panen
  • Membangun system informasi pasar
  • Mengembangkan system pemasaran bersama
  • Membuat dan Menentukan Kalender musim

 

 

 

 

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan