logoblog

Cari

Tutup Iklan

Kopi Juang Beras Merah Sembalun

Kopi Juang Beras Merah Sembalun

Aroma kopi serta geliat pagi mengiringi langkah kaki memulai kembali aktivitas hari ini. Segelas kopi panas  mampu menyejukkan dinginnya hawa desa

Ekonomi

KM Sembalun Bumbung
Oleh KM Sembalun Bumbung
01 Februari, 2017 18:10:37
Ekonomi
Komentar: 0
Dibaca: 44037 Kali

Aroma kopi serta geliat pagi mengiringi langkah kaki memulai kembali aktivitas hari ini. Segelas kopi panas  mampu menyejukkan dinginnya hawa desa Sembalun. Berbicara tentang kopi, sebagai negara penghasil kopi terbesar ke-4 di dunia, tentu saja kualitas kopi di tanah air tak bisa dipandang sebelah mata. Salah satu wilayah yang memiliki potensi penghasil kopi terbaik di Indonesia ada di Sembalun Nusa Tenggara Barat (NTB). Masa panen kopi di Sembalun sekali dalam kurun waktu  satu tahun. Akan tetapi selama musim panen yang di mulai dari bulan juni hingga september pemanenan bisa dimulai secara terus menerus dan berkala.

Arabica adalah jenis kopi yang tumbuh  di ketinggian 700-1200 mdpl dengan suhu 16-20 derajat celcius dan beriklim kering. Sementara robusta tumbuh di ketinggian 400-700 mdpl dengan suhu 21-24 derajat celcius. Arabica memang menguasai sebagian pasar dunia dalam persentasi 70% untuk Arabica dan 30% untuk Robusta.

Pengolahan biji kopi di Sembalun masih dilakukan dengan cara tradisional. Selain itu, masyarakat Sembalun juga mencampurkan beberapa bahan tambahan yang memebuat cita rasa dan sensasi kopi Sembalun berbeda dengan daerah lain. Bahan-bahan tersebut meliputi kelapa dan beras merah. Terdapat serangkaian proses yang memakan waktu cukup lama untuk mengubah biji kopi, beras merah, dan kelapa menjadi serbuk kopi yang siap untuk diseduh. Proses tersebut meliputi pemetikan buah, pengupasan kulit, penjemuran biji, penyiapan bahan tambahan (beras merah dan kelapa), penyangraian, dan penumbukan biji kopi.

Proses pemanenan kopi di Sembalun dilakukan secara manual dengan memetik buah-buah yang sudah matang.  Buah kopi yang sudah di panen selanjutnya di sortir kemudian dijemur selama satu minggu lamanya.  Tujuannya untuk mengurangi kadar air dan memudahkan proses pengupasan kulit dari biji kopi itu sendiri. Selesai penjemuran biji kopi akan di pisahkan dari cangkangnya, dalam  proses ini masyarakat Sembalun pada umumya masih menggunakan cara tradisional, yaitu dilakukan dengan cara ditumbuk hingga kulit dengan biji kopinya terpisah.  Setelah dipisahkan dari kulit dan cangkangnya, biji kopi kembali di jemur dalam jangka waktu 24 jam. Masyarakat Sembalun meyakini peralatan yang digunakan untuk menyangrai biji kopi akan mempengaruhi cita rasa dan aroma kopi. Agar terasa lebih nikmat dan aromanya tetap terjaga, maka dalam proses penyangraian masyarakat Sembalun menggunakan wajan yang terbuat dari tanah. Penumbukan tidak dilakukan sekali saja, biji kopi yang sudah di sangrai kemudian ditumbuk kembali untuk meningkatkan kehalusannya.

 

Baca Juga :


Dari satu kwintal kopi yang baru dipetik bisa menghasilkan 123 kilogram  biji kopi yang sudah di sangrai. Jika di haluskan bisa menghasilkan 7 kilogram serbuk kopi. 1 kilogram kopi halus bisa dijual dengan harga Rp250 perkilonya, sementara biji kopi dijual dengan harga Rp80 perkilonya. () -03



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan