logoblog

Cari

Butuh Empat Hari Dapatkan Rp.120 Ribu

Butuh Empat Hari Dapatkan Rp.120 Ribu

KM Sarei Ndai.- Banyak hal dilakukan warga dalam memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari. Demi mendapatkan kehidupan yang baik, beberapa orang rela melakukan hal-hal

Ekonomi

KM Sarei Ndai
Oleh KM Sarei Ndai
19 September, 2014 13:22:00
Ekonomi
Komentar: 3
Dibaca: 5135 Kali

KM Sarei Ndai.- Banyak hal dilakukan warga dalam memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari. Demi mendapatkan kehidupan yang baik, beberapa orang rela melakukan hal-hal yang menantang. Seperti yang dilakukan Usman, 40 tahun, yang mencoba mengais rezeki sebagai penambang pasir di pantai Lewamori.

Terik matahari tepat berada di tengah langit saat KM Sarei Ndai melewati jalan menuju pantai Kalaki. Siang menjelang sore itu, tampak dari arah barat pantai Lewamori terlihat seorang pria yang tengah berusaha mengangkut pasir ke dalam sampan berukuran 3 meter. Pria itu, adalah Usman, warga Desa Sondosia Kecamatan Bolo.

Penasaran dengan aktifitas itu, KM mencoba merapat  pria tersebut. Rupanya pria tersebut tengah mencari butiran pasir di tengah lautan Lewamori. Melihat aktifitasnya, ditengah lautan dan dibawa teruk panasnya matahari siang membuat kami tercengang.

Kepada KM Sarei Ndai, Usman mengaku sudah 30 tahun bergeluti dengan pasir di tengah laut Lewamori tersebut. Alasannya, karena terhimpit ekonomi lantaran tidak adanya lapangan pekerjaan lain untuk membiayai kehidupan keluarga.

Tuntutan biaya hidup lkeluarga memaksa pria ini untuk menjadi penambang pasir. Pekerjaan tersebut merupakan pilihan terakhir untuk memperoleh sesuap nasi. Selain untuk biaya kebutuhan, pekerjaan tersebut dianggap mampu mencukupi biaya sekolah dua orang anaknya yang masih duduk di bangku kuliah.

Meski sudah bergelut puluhan tahun, namun belum ada tanda-tanda perubahan dalam kehidupan dia dan keluarganya. Pasalnya, dia harus menambang pasir selama empat hari baru bisa mendapatkan uang sebesar Rp 120 ribu. Uang itu pun tidak langsung diterima oleh Usman. Karena pasir hasil tambang harus dijual lagi.

 

Baca Juga :


“Selama empat hari itu, saya hanya mampu mengumpulkan pasir sebanyak satu truk. Satu truk dibayar sebesar Rp 120 ribu. Itupun kalau pasir saya laku,’ katanya.

Selain itu, proses penanmbangan pasir tersebut harus dilakukan saat air laut surut. Saat laut pasang, mereka akan beristirahat sambil menunggu air laut kembali surut.

Ditanya kendala yang dialami saat mengangkut pasir, Usman mengaku terkendala ukuran sampan yang kecil. Kondisi tersebut, kata dia, mempengaruhi muatan pasir yang diangkut. “Kalau sampannya besar, kita bisa satu kali jalan. Tapi sampannya kecil, sehingga harus keluar masuk laut. Ini yang membuat pekerjaan kami sedikit terlambat,” terangnya.

Meski setiap hari bertemu laut dan pasir ditengah terik matahari, Usman mengaku pasrah menjalaninya. Karena tidak ada pilihan lain untuknya dalam menghidupi keluarga.(Andre) - 02



 

Artikel Terkait

3 KOMENTAR

  1. KM. Serambi Brangrea

    KM. Serambi Brangrea

    20 September, 2014

    pas banget saudara kami KM Kaula, jangan jadikan kesulitan ekonomi menjadi alasan menghalalkan segalam macam cara untuk mendapatkan sesuatu. empat jempol untuk pak Usman semoga rezekinya dimudahkan dan pastinya keberkahan selalu menyertai.


  • KM LENGGE

    KM LENGGE

    20 September, 2014

    NIAT YANG TULUS DAN IKHLAS UNTUK BEKERJA KARENA IBADAH KEPADA ALLAH SWT,,,,,INSALLAH HIDUP KITA TENANG DAN AKAN SELALU BERKAH...


  • KM Kaula

    KM Kaula

    19 September, 2014

    Sulitnya ekonomi harus mampu menjadi pelajaran buat kita bersama bahwa dalam hidup ini kita jangan terlalu fokus mencari nominalnya. saja tapi penting juga dicari barokahnya.


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright © 2008-2020 | Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan